Rayakan Hari Ayah Nasional 2022 Melalui Peningkatan Partisipasi Suami Dalam Kesehatan Ibu Untuk Menyikapi Ketimpangan Gender Antara Istri Dan Suami. Oleh: Dian Puspitasari Mahasiswa Program Doktor Penyuluhan Pembangunan Peminatan Promosi Kesehatan Universitas Sebelas Maret Surakarta

banner 160x600
banner 468x60

Hari Ayah Nasional adalah salah satu hari peringatan hari anggota keluarga selain hari ibu, pertama kali diperingati pada 12 November 2006. Peringatan hari ayah ini sebagai bentuk apresiasi dan pengakuan terhadap peran seorang ayah atau bapak dalam sebuah keluarga. Sosok menjadi suami, ayah atau bapak merupakan bagian yang penting dalam keluarga apalagi di struktur keluarga patriaki. Salah satu pentingnya peran seorang ayah adalah saat istrinya menjalani periode kesehatan dalam siklus kehidupan perempuan yaitu kehamilan, persalinan dan nifas yang merupakan tahap penting dalam meng-ASIhi buah hatinya.

Sistem patriarki ini juga membuat perempuan “tidak berdaya” untuk memutuskan yang terbaik bagi kesehatan dirinya, sehingga keputusan hak reproduksi seorang perempuan masih didominasi oleh otoritas suami. Keadaan ini menunjukkan masih terjadinya ketimpangan gender yang ada di masyarakat karena posisi sosial seorang perempuan yang saat ini masih mengalami subordinasi. Selain faktor tersebut masih terdapat budaya yang menganggap bahwa masalah perawatan kesehatan ibu dan anak adalah tugas perempuan. Oleh sebab itu, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperjuangkan regulasi yang lebih sensitif gender dan memberdayakan perempuan dalam strata sosial masyarakat agar memiliki otoritas penuh dalam pengambilan keputusan hak reproduksinya. 

Angka Kematian Ibu yang masih tinggi merupakan salah satu permasalahan gender di bidang kesehatan dan harus diprioritaskan penanganannya. Kebijakan berbasis gender sebenarnya telah diimplementasikan oleh Kementerian Kesehatan untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan adanya pembentukan Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan dan Penerapan Anggaran yang Responsif Gender di Bidang Kesehatan. Pemerintah juga telah mengembangkan berbagai kebijakan kesehatan yang terkait dengan isu gender, khususnya mengenai peran pria/suami ataupun ayah dalam meningkatkan status kesehatan ibu, yakni dengan adanya Desa Siaga, Suami Siaga, Ayah ASI, Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), Program Kelas Ibu Hamil dan masih banyak lagi program yang melibatkan peran suami. Namun demikian, pada realisasinya pelaksanaan program-program tersebut di atas masih bervariasi di masyarakat.

Program Desa Siaga dinilai saat ini kurang semarak di masyarakat program ini adalah program yang melibatkan keluarga dan masyarakat dalam menyiapkan masyarakat untuk mengatasi keterlambatan merujuk yang sejalan dengan program P4K yang merupakan  kegiatan difasilitasi oleh bidan dalam rangka meningkatkan peran aktif suami, keluarga dan masyarakat dalam merencanakan persalinan yang aman dan persiapan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya komplikasi pada saat hamil, bersalin dan nifas. Kenyataannya program P4K ini masih menjadi rutinitas edukasi yang selalu dijawab oleh seorang ibu tetapi implementasi program ini belum dilakukan secara nyata. Program yang menjadi bagian dari Desa Siaga adalah  program Suami Siaga dan Ayah ASI  sebagai salah satu upaya meningkatkan partisipasi pria dalam mendukung ibu hamil, bersalin dan nifas agar ibu dan bayi lahir selamat serta mendapatkan asih asuh yang baik. Harapannya seorang ayah hendaknya bener-benar bisa memiliki peran partisipasi yang sama tetapi di masyarakat pelaksanaannya para suami telah siap mengantarkan periksa istri, mendampingi persalinan melainkan belum sepenuhnya berperan karena para suami baru sebagai pengantar saja belum benar-benar mendampingi dan memiliki peran yang sama dalam memperoleh edukasi tentang kesehatan ibu dan anak.  

Seorang suami juga perlu mendapat pengetahuan yang sama seperti yang diperoleh ibu hamil, agar suami mempunyai sikap yang positif untuk terlibat dalam perawatan kesehatan ibu dan anak. Program yang menekankan pada partisipasi suami telah tersedia dan dilakukan tetapi belum optimal dilaksanakan. Perlu adanya program yang lebih spesifik menggarap pembekalan pria tentang kesehatan ibu, serta deteksi dini masalah kegawatdaruratan sehingga pria dapat berperan sebagai pendamping yang tidak hanya siap antar jaga, tetapi pendamping yang peduli terhadap perawatan kesehatan ibu dan anak. Sehingga perlunya kebijakan atau program tersebut menargetkan secara khusus pada suami karena evaluasi pelaksanaannya selama ini targetnya masih terfokus pada ibu. Hal inilah yang menyebabkan adanya ketimpangan gender antara istri dan suami untuk mendapatkan edukasi yang memadai tentang kesehatan ibu dan bayi baru lahir sebagai upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak. Semoga hal ini menjadi bahan renungan semua pihak untuk mulai memperhatikan peran seorang ayah dalam kesehatan maternal.(**)

 

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Rayakan Hari Ayah Nasional 2022 Melalui Peningkatan Partisipasi Suami Dalam Kesehatan Ibu Untuk Menyikapi Ketimpangan Gender Antara Istri Dan Suami. Oleh: Dian Puspitasari Mahasiswa Program Doktor Penyuluhan Pembangunan Peminatan Promosi Kesehatan Universitas Sebelas Maret Surakarta"