Unik, Gerabah di Desa Melikan-Klaten Ini Dibuat dengan Teknik Putaran Miring

banner 160x600
banner 468x60
 

Klaten – Gerabah melikan, gerabah yang berasal dari desa Melikan, kecamatan Wedi, kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Secara tampilan gerabah ini tidak ada bedanya dengan gerabah pada umumnya. Hanya saja cara pembuatan gerabah ini menggunakan teknik yang terbilang cukup unik.

Jika pada umumnya gerabah dibuat pada alat putar dengan bidang datar, namun gerabah Melikan dibuat menggunakan teknik putaran miring atau alat putar dimiringkan beberapa derajat ke arah depan. Bukan tanpa alasan, perajin gerabah Melikan meneruskan tradisi pendahulu mereka yang menjaga tinggi nilai kesopanan pada wanita, dan sudah menjadi ciri khas adat ketimuran.

Pada zaman dahulu, wanita desa Melikan biasa menggunakan kain jarik sebagai bawahannya. Sehingga alat putar gerabah dibuat miring kedepan agar kaki dapat selonjor dan mudah mengendalikan putaran gerabah. Dengan dibuat miring, perajin gerabah tidak perlu membuka kakinya di depan alat putar, sehingga tidak melanggar norma kesopanan pada wanita.

Salah satu perajin gerabah Melikan yang masih eksis hingga saat ini ialah Bu Sipon yang telah meneruskan usaha keluarganya secara turun temurun. Dengan dibantu 5 orang karyawan, dalam sehari Bu Sipon mampu memproduksi 200 an gerabah dengan berbagai jenis dan ukuran. Gerabah yang dibuat Bu Sipon antara lain pot bunga, vas bunga, kendi, gentong, padasan, wastafel, kuali, serta berbagai alat dapur lainnya.

Gerabah buatan Wagino dibandrol mulai harga 1000 rupiah untuk ukuran paling kecil, hingga 2.500.000 rupiah untuk ukuran yang paling besar. Kini gerabah Melikan ini sudah banyak dipasarkan ke berbagai wilayah seperti Solo, Yogyakarta, dan Jakarta, bahkan tembus hingga mancanegara seperti Australia dan Belanda.

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Unik, Gerabah di Desa Melikan-Klaten Ini Dibuat dengan Teknik Putaran Miring"